Posted on September - 09 - 2009 by george_herman
STRESS - STRESSED OUT
STRESS
by George Herman, MBA CH CHt CMNLP LAPHP
Senior therapist at Mind Clinic – Jakarta
george_herman@cbn.net.id, www.mindclinic.co.id
Artikel ini ditulis dalam bahasa populer menyesuaikan pengertian ‘awam’ (non psikiatri, non klinis) agar lebih mudah dicerna masyarakat umum, tanpa bermaksud terlalu menyederhanakannya.
Apakah saya sedang mengalami STRESS?
Stress bisa bisa diartikan sebagai suatu keadaan yang mengganggu atau berpotensi mengganggu bekerjanya fungsi psikologis dan tubuh secara normal, yang diakibatkan karena ketidak seimbangan psikologis pada seseorang. Seseorang yang mengalami stress berkepanjangan bisa mengalami gangguan psikologis maupun gangguan fungsi-fungsi tubuh yang serius.
Setiap orang pasti pernah atau bahkan sering mengalami stress. Hal ini wajar karena stress merupakan reaksi naluriah kita menghadapi suatu keadaan untuk memutuskan fight (lawan/hadapi) atau flight (lari/hindari). Dalam kehidupan modern fight or flight ini bisa dimanifestasikan dalam berbagai bentuk dan cara, dan biasanya kita dibatasi oleh berbagai norma-norma. Stress bisa menyenangkan (seru main game), dan bisa tidak menyenangkan (ketakutan berkepanjangan). Hans Selye (1907-1982) menyebutkan stress yang tidak menyenangkan sebagai ‘distress’. Stress dan distress menimbulkan reaksi tubuh yang berbeda-beda.
Artikel ini membahas tentang:
- Bagaimana terjadinya Stress?
- Bagaimana mengatasi Stress?
- Mengapa berbagai “jurus” yang ada belum cukup?
- Mengapa NLP-Hypnotherapy sangat efektif?
- Bagaimana bila dibiarkan terus terjadi dalam diri seseorang?
Apa beda STRESS, rasa takut dan rasa cemas?
Kecemasan dan rasa takut (C&T) adalah signal yang membuat kita siaga. C&T memperingatkan kita tentang bahaya yang mengancam, serta memungkinkan kita mengambil tindakan menghadapi ancaman tersebut.
Kecemasan merupakan respon terhadap suatu ancaman yang tidak diketahui, bersifat internal, tidak jelas atau bersifat konflik/tidak selaras. “Ada sesuatu yang tidak beres”. Objeknya bersifat menekan dan tidak disadari atau tidak dikenal oleh pikiran sadar.
Rasa takut adalah signal siaga yang mirip dengan kecemasan, namun berbeda. Rasa takut merespon terhadap ancaman eksternal tertentu, atau suatu objek yang eksternal dan nyata.
Kadang tidak mudah membedakan C&T, karena rasa takut bisa juga diakibatkan oleh objek internal yang tidak disadari dan menekan, yang disarukan dengan objek lain dalam dunia eksternal.
Contoh: Seorang anak laki-laki takut pada gonggongan anjing, di mana sebenarnya ia takut pada ayahnya. Suatu kali pada saat ayahnya sangat marah dan sedang menghukum dia dengan keras, ada seekor anjing yang menggonggong. Secara tidak sadar ia mengasosiasikan ayahnya dengan gonggongan anjing. Sejak itu setiap ia mendengar gonggongan anjing ia langsung merasa takut sekali.
Perbedaan psikologis yang utama antara keduanya terletak pada sifat mendadak yang terjadi pada rasa takut, dan sifat tersembunyi dan membahayakan yang terdapat pada kecemasan.
Ketidak seimbangan psikologis akibat kecemasan dan/atau rasa takut yang terjadi untuk waktu yang cukup lama menimbulkan stress, yang bila berlangsung untuk waktu yang lebih lama lagi bisa menimbulkan distress dengan berbagai variasi penyimpangan psikologis dan psikosomatis (gangguan kesehatan yang diakibatkan kondisi psikologis yang bermasalah).
Bagaimana terjadinya Stress?http://mindclinic.co.id/wp-admin/post.php?action=edit&post=1036
Kecemasan dan rasa takut muncul akibat terjadinya ketidak seimbangan antara “ego” dan “tekanan/ancaman”.
Berbagai unsur yang membetuk “ego” adalah: *Latar Belakang Sosial Budaya, *Nilai-Nilai dan Keyakinan (Values and Beliefs), serta *Sifat Perilaku (Behavioral Traits).
Berbagai unsur yang membentuk “tekanan/ancaman” adalah: *Potensi bahaya oleh suatu kejadian atau obyek, *Keterbatasan Sumberdaya, dan *Keterbatasan Set Keterampilan-Pengetahuan-Pengalaman yang dimiliki.
Apabila kombinasi dari berbagai unsur yang membentuk “ego” tersebut mempersepsikan bahwa kemampuan yang dimiliki seseorang tidak cukup memadai untuk mengatasi “ancaman”, maka ketidak seimbangan pun terjadi dan lebih lanjut menimbulkan kecemasan dan/atau rasa takut, yang bila terjadi berkepanjangan menimbulkan Stress.
Ketidak cukupan dimaksud hanyalah dalam bentuk PERSEPSI sang “ego”, yang belum tentu sesuai kenyataan yang sebenarnya. Bisa saja sebenarnya orang tersebut sangat kompeten menghadapi dan menyelesaikan permasalahan yang ditimbulkan oleh suatu “ancaman”. Atau “ancaman” tersebut tidak sehebat dan se fatal persepsinya. Namun bila ia mempersepsikan dirinya tidak mampu, dan/atau dampak resiko yang ada amat terlalu besar dan fatal, maka kompetensi nyata yang ada bisa jadi tidak berfungsi efektif karena tidak siap untuk dikerahkan. Berbagai gejala dan akibat Stress pun timbul.
Bagaimana mengatasi STRESS?
Sebelum stress benar-benar menggerogoti anda, latihan relaksasi akan sangat membantu anda mencegahnya. (lihat tips cara Self Relaxation).
Bila stress telah terlanjur menimpa anda, oleh karena “tekanan” hidup selalu ada, arah upaya mengatasinya bukanlah ditujukan meniadakannya. Kiatnya adalah mengembalikan keseimbangan “ego” dan “tekanan/ancaman”, serta menciptakan keseimbangan yang terkendali.
Keseimbangan yang terkendali bisa dicapai dengan strategi sebagai berikut:
· Memperkuat “ego” dan memperbaiki kemampuan perspektifnya memandang “ancaman” secara objektif.
· Mengelola “ancaman” agar seoptimal mungkin bisa seimbang dengan kondisi kekuatan dan kelemahan “ego”.
· Kombinasi keduanya.
Mengapa berbagai “jurus” dan “kiat” yang ditawarkan sering belum cukup?
Banyak “jurus” dan “kiat” yang ditawarkan dalam berbagai pelatihan, buku, dan bahkan oleh berbagai “guru spiritual” ternyata sering dirasakan belum cukup untuk bisa mengatasi stress. Hal ini sering bukan karena content yang ditawarkan kurang baik atau tidak cukup. Bisa jadi kekurangannya terjadi pada PROSESnya.
“Ego” dengan berbagai unsurnya bekerja pada tatanan pikiran bawah sadar. Penyampaian dan penerapan “jurus” dan “kiat” tersebut sering tersampaikan dalam tatanan pikiran sadar, dan tidak menembus sampai ke pikiran bawah sadar. Akibatnya upaya ini tidak membawa perubahan yang berarti pada elemen-elemen “ego”, dan ketidak seimbangan tersebut pun tetap bertahan.
Proses penyampaian “jurus” dan “kiat” yang mampu menembus sampai ke tatanan pikiran bawah sadar akan efektif dalam membawa perubahan dan perbaikan menghadapi stress.
Mengapa NLP-Hypnotherapy sangat efektif dalam memperkuat “ego”?
NLP-Hypnotherapy bekerja pada tatanan pikiran bawah sadar di mana “ego” berada, dan oleh karenanya langsung bersentuhan dengan berbagai elemen “ego” tersebut. Berbagai komunikasi dijalin langsung dengan pikiran bawah sadar seseorang, sehingga berbagai update perbaikan dan masukan langsung diterima dan menyatu dalam pikiran bawah sadar. Itulah sebabnya NLP-Hypnotherapy sangat efektif dan cepat dalam mengatasi berbagai masalah psikologis dan psikosomatis, termasuk stress.
Bagaimana bila STRESS dibiarkan terus terjadi dalam diri seseorang?
Bila stress dibiarkan terus terjadi untuk waktu yang lama, berbagai disfungsi psikologis dan tubuh akan terjadi dan menggerogoti kinerjanya, sampai akhirnya membawa dampak yang fatal pada diri orang tersebut.
Berbagai gangguan psikologis tertera di bawah ini akan terjadi, baik sendiri-sendiri, maupun dalam bentuk berbagai kombinasinya: *Depresi, *Panik, *Takut berada di tempat umum, *Phobia bersosialisasi, *Phobia tertentu (gelap, ketinggian, hewan tertentu, suntikan, dll), *OCD (keharusan melakukan sesuatu berulang-ulang), *PTSD (ketakutan-ketidak berdayaan-berkubang dalam suatu pengalaman, dll), *Kecemasan berlebihan, *Sulit/tidak bisa tidur, dan lain-lain
Berbagai gangguan fisik yang terjadi akibat stress yang berkepanjangan, baik sendiri-sendiri maupun dalam bentuk berbagai kombinasinya (psikosomatis): *Kejang/sakit/lumpuh pada otot tertentu, *Tekanan darah tinggi/rendah, * Kebas pada sebagian anggota tubuh, *Gerakan otot yang tidak terkendali, *Terganggunya salah satu atau kombinasi sistim panca-indera, *Gangguan sistem pencernaan, dan lain-lain.



