Posted on July - 22 - 2009 by george_herman
Baby Blue Syndrome - what it is, what it is not.

Baby Blue Syndrome bisa sembuh dengan sendirinya bila mendapat dukungan dari suami dan anggota keluarga lain.
Baby Blue Syndrome - what it is, what it is not.
George Herman, CH CHt CMNLP LAPHP
Senior NLP-Hypnotherapist at Mind Clinic Jakarta
0811950819
george_herman@cbn.net.id
www.mindclinic.co.id
Baby Blue Syndrome adalah gejala terringan dalam suatu rangkaian stress yang tidak menyenangkan (distress) pada ibu yang baru melahirkan (Postpartum Distress). Banyak tulisan bisa didapatkan pada berbagai media tentang Baby Blue Syndrome yang semakin ‘populer’ akhir-akhir ini. Tulisan ini dibuat untuk melengkapi dan lebih memperjelas lagi tentang Baby Blue Syndrome, what it is, and what it is not.Rangkaian Postpartum Distress dimaksud adalah Baby Blue Syndrome, Postpartum Depression, dan Postpartum Psychotic. Baby Blue Syndrome berbeda dari Blue Baby, yang terjadi pada diri sang bayi yang tubuhnya menjadi kebiruan akibat kekurangan oksigen; penyebabnya adalah munculnya methoglobia dalam darah sang bayi hasil rangkaian reaksi akibat masuknya Nitrates ke dalam tubuhnya.
Tabel ini disusun dari kombinasi sumber Miller LJ (1995) dan Kaplan & Sadocks (2007).
|
Baby Blue Syndrome |
Postpartum Deppression |
Postpartum Psychotic |
|
· Terjadi pada 30-75% ibu melahirkan · Gangguan suasana hati & pikiran (Mood) · Munculnya rasa sedih · Murung, gelisah, tidak nyaman · Kebingungan yang subjektif · Menjadi mudah/sering menangis · Kadang sulit tidur · Terjadi 3-5 hari setelah melahirkan · Berlangsung selama beberapa hari sampai beberapa minggu · Tanpa pemicu khusus · Tidak dipengaruhi kondisi sosial budaya dan tingkat ekonomi · Bisa terjadi pada orang yang tidak pernah dan berasal dari anggota keluarganya yang tidak pernah mengalami penyimpangan mood · Tidak berpikir ingin bunuh diri · Jarang ada yang berpikir ingin menyakiti sang bayi · Hampir tidak pernah merasa bersalah dan tidak berdaya. · Bisa kembali normal dengan sendirinya bila dukungan dan bantuan anggota keluarga lain bisa membuat sang ibu baru tersebut tenang |
· Terjadi pada 10-15% ibu melahirkan · Gangguan suasana hati & pikiran, dengan perasaan tertekan yang merata · Mudah/sering menangis · Hampir selalu sulit tidur · Terjadi antara 3-6 bulan setelah melahirkan, biasanya 12 minggu · Berlangsung selama beberapa bulan, bila tidak mendapatkan perawatan bisa mencapai beberapa tahun · Pemicu utama terjadi bila tidak mendapatkan dukungan dari suami dan/atau anggota keluarga · Sangat dipengaruhi kondisi sosial budaya dan tingkat ekonomi · Sangat erat hubungannya dengan pengalaman penyimpangan mood yag pernah/sedang dialami. Bisa terjadi pada ibu yang anggota keluarga lainnya pernah mengalami penyimpangan mood. · Kadang berpikir ingin bunuh diri. · Sering berpikir ingin menyakiti sang bayi · Sering merasa berlebihan merasa bersalah dan tidak berdaya · Perlu mendapatkan bantuan dan treatment |
· Terjadi pada 0,1-0,2% ibu melahirkan · Depresi dengan gangguan mood · Khayalan yang kacau (bayi cacad/ meninggal, mengingkari kelahiran, menganggap dirinya belum menikah, perawan, terus menerus meragukan keyakinan diri, mudah terpengaruh, memberontak) · Mengeluh letih, tidak bisa tidur, gelisah, menangis, emosi tidak terkendali, curiga, bingung, bukan dirinya sendiri, kata-kata menyakitkan, obsesi pada kesehatan bayi. · Mengeluh tidak bisa berdiri, tidak bisa berjalan/bergerak · Terjadi beberapa hari, rata-rata 2-3 minggu setelah kelahiran, hampir selalu dalam kurun 8 minggu · 50% berasal dari keluarga yang pernah mengalami penyimpangan mood · Ingin bunuh diri atau membunuh sang bayi. Bisa merasa ada suara-suara yang menyuruhnya bunuh diri atau membunuh sang bayi · Dari populasi penderita, 5% bunuh diri, 4 % membunuh bayinya, 67% mengalami kejadian kedua kali penyimpangan emosional (affective disorder) sepanjang tahun · Proses kelahiran menjadi salah satu ketegangan yang berkembang menjadi penyimpangan mood yang hebat · Harus mendapatkan bantuan, pengawasan dan treatment |
Beberapa hal penyebab Baby Blue Syndrome:
· Perubahan keseimbangan hormon pada tubuh sang ibu yang baru melahirkan sehingga menimbulkan ketidak-seimbangan emosi.
· Kelelahan sang ibu setelah melahirkan.
· Kesulitan menyusui atau masalah pada payudara si ibu sehingga tidak bisa menyusui.
· Trauma pada pengalaman proses melahirkan.
· Perasaan stress atau tertekan pada saat mengandung.
· Perasaan canggung, serba tidak mengerti, serba salah dalam ngurus bayi.
· Bayi yang “rewel”, terbangun tengah malam, menangis ‘tanpa sebab yang jelas’, bayi yang bangun dan segar terus di tengah malam, kondisi bayi (berat kurang, kuning, tidak normal).
· Lingkungan yang tidak mendukung (suami, orang tua, mertua) yang sangat memojokkan sang ibu yang kelelahan dan/atau kebingungan.
Persiapan sang calon ibu untuk mencegah Baby Blue Syndrome:
· Rundingkan dan mintalah bantuan serta dukungan suami dan keluarga besar sebelum melahirkan. Berbagai dukungan mereka bisa sangat meringankan beban psikologis sang ibu.
· Melengkapi diri dengan berbagai pengetahuan dan keterampilan tentang perawatan dan pertumbuhan bayi. Hal ini akan sangat meminimalkan berbagai ‘kejutan’ yang amat melelahkan dikemudian hari.
· Mempersiapkan mental sang calon ibu agar lebih segar dan mantap menghadapi berbagai situasi yang bisa timbul. Kesiapan mental adalah ibarat “stamina” dalam dunia olah raga. Berbagai tempo dan ujian dalam permainan di lapangan bisa diatasi dengan lebih baik berkat kesiapan “stamina”.
· Persiapkan sang suami untuk mendukung sepanjang proses kehamilan sampai setelah kelahiran, dengan mengisi pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan, merencanakan berbagai peran dalam berbagai skenario.
Hal yang bisa dipersiapkan sang calon ayah:
· Hindari penerimaan segala bentuk situasi yang timbul sebagai hal yang ditujukan kepadanya secara pribadi.
· Berdiskusi dengan teman-teman, anggota keluarga lainnya, atau dengan profesional di bidang ini.
· Jaga kesehatan dan stamina, karena yang akan dihadapi adalah urusan emosional.
· Bersabar menghadapi sang istri yang lelah setelah mengalami berbagai perubahan fisik dan hormon yang memicu berbagai ketidak-seimbangan emosi.
· Bersiap-siap mendukung sang istri, dengan cinta dan kehangatan yang sangat dibutuhkannya.
Catatan:
NLP-Hypnotherapy sangat efektif untuk membantu calon ibu dan ayah membangun mental yang kuat dan mantap untuk mewujudkan dukungan dan kehangatan yang sangat dibutuhkan seluruh anggota keluarga, termasuk sang bayi yang akan lahir.
Menghadapi Baby Blue Syndrome bila terjadi:
· Berkolaborasi dengan suami dan anggota keluarga lainnya merealisasikan peran-peran menghadapi berbagai kondisi “ups and downs” semua pihak, termasuk sang ibu yang baru melahirkan. Komunikasi yang baik sangat dibutuhkan dan sangat dapat menghindari berbagai salah pengertian yang menjengkelkan.
· Tenangkan diri anda, lakukan meditasi atau relaksasi diri. Ketenangan mutlak dibutuhkan, karena ini adalah urusan emosional.
(Relaksasi diri dapat dipelajari dengan sangat mudah, kumpulkan beberapa teman dan hubungi kami untuk latihan praktek langsung dalam 1 kali pertemuan. Dapat di share sekaligus dengan 8 calon ibu lain).
· Yakinkan diri anda bahwa proses melahirkan dan merawat bayi adalah proses alamiah, dan anda tidak sendiri mengalaminya.
· Anda perlu cukup beristirahat, tidurlah ketika sang bayi tidur. Berolah raga ringan dan makan makanan bergizi untuk menjaga stamina anda. Stamina yang kuat dan mantap bisa mendukung anda menghadapi berbagai persoalan emosi yang sewaktu-waktu bisa menerpa anda.
· Ikhlas dan tulus dengan berbagai peran sebagai ibu, jangan perfeksionis dalam hal ini.
· Bicarakan kecemasan, keluhan dan kekhawatiran anda pada suami, anggota keluarga, dan bila perlu bergabung dengan kelompok ibu-ibu baru yang bisa diorganisir oleh pihak rumah bersalin atau komunitas tertentu.
· Lakukan hobby dan hal-hal yang anda senangi di sela-sela waktu yang ada, nikmati keseluruhan proses nya. Bersikaplah fleksibel dalam menghadapi berbagai situasi.
· Kerja sama dengan suami membatasi teman-teman dan anggota keluarga yang menjenguk anda, terutama pada satu atau dua minggu pertama. Berbagai kunjungan bisa sangat menguras tenaga dan emosi anda.
· Perhatikan pola makan anda, jangan biarkan perkembangan berat badan anda menambah beban pikiran dan emosi. Anda juga tentu tidak menghendaki pola makan anda mengganggu gizi yang terkandung dalam ASI.
· Lakukan sebisa anda untuk menggalang kolaborasi dengan suami anda untuk mendapatkan dukungan dan kehangatannya termasuk dari anggota keluarga lain. Bila masih mengalami gejala ini setelah dua minggu, mintalah bantuan pada profesional yang membidangi hal ini. NLP-Hypnotherapy juga sangat efektif membantu anda mengatasinya.
Selamat mencoba.



